[Review] 7/24

film 7 24

7/24 (2014)
Duration: 110 minutes
Casts: Dian Sastro, Lukman Sardi, Ari Wibowo
Screenplay by: Nataya Bagya
Directed by: Fajar Nugros

Intisari: Apa jadinya bila pasangan suami istri yang selalu sibuk bekerja jatuh sakit di saat yang bersamaan? Repot. Pastinya ada banyak kerjaan yang menumpuk dan menunggu untuk diselesaikan. Belum lagi bila keduanya tengah menangani proyek pekerjaan yang sedang dikejar tenggat waktu dan target tertentu.

Itulah yang dialami oleh Tanya (Dian Sastro) yang bekerja di sebuah perusahaan finansial bergengsi dan Tyo (Lukman Sardi), seorang sutradara naik daun yang harus menyelesaikan proses syuting film garapannya. Dirawat bersama di dalam kamar VIP di sebuah rumah sakit ternyata membuat mereka bukan hanya harus berjuang untuk sembuh agar bisa kembali bekerja, namun memberi makna baru pada pernikahan mereka yang menginjak usia lima tahun.

724_2

###

Akhirnya ada juga film Indonesia yang mengangkat tema mengenai kehidupan pasangan suami istri dewasa muda dalam balutan gaya hidup metropolitan khas Jakarta. Mengingat ramainya genre film horror dan romantis yang lebih mengedepankan kaum remaja sebagai tokoh-tokoh utamanya, 7/24 menjadi hiburan tersendiri bagi pecinta film Indonesia. Apalagi yang muncul di layar adalah nama-nama besar Dian Sastro, Lukman Sardi dan Ari Wibowo. Setelah sekian lama ga muncul di layar lebar, kemunculan pemeran Cinta dalam film Ada Apa Dengan Cinta? (2002) tersebut tentunya menjadi magnet untuk mendorong banyak penggemarnya ke bioskop.

Wajar saja banyak yang penasaran untuk menyaksikan kembali akting Dian yang terkenal cukup selektif menerima tawaran kerja di bidang hiburan. Terlebih lagi film ini bergenre komedi romantis. Siapa yang ga makin penasaran? Itulah sebabnya gue rela mengejar film ini meskipun serbuan film-film box office akhir tahun sudah ramai naik layar di berbagai bioskop.

Meski ada nama-nama aktor besar di film ini, gue sengaja datang dengan pikiran terbuka. Tanpa ekspektasi apa-apa. Sebab terakhir kali gue menonton film garapan Fajar Nugros (Cinta di Saku Celana, 2012), yang tersisa hanyalah rasa kecewa dan karenanya gue tidak mau berharap apa-apa saat menonton film ini pula. Gue hanya ingin datang dan menonton saja atas nama hiburan.

Dan memang benar, gue merasa terhibur saat nonton film ini. Bukan hanya gue saja, tapi juga banyak penonton lainnya di sekitar gue. Penonton yang kebanyakan didominasi oleh remaja dan dewasa muda yang datang bersama rekan sekerja maupun pasangannya tersebut kerap tertawa atau tersenyum menahan gelak ketika menyaksikan beberapa adegan film.

Terutama ketika Lukman Sardi melakukan kegiatan sehari-hari yang seharusnya biasa saja namun terlihat konyol dan lucu, misalnya buang air besar di atas tempat tidur pesakitannya. Atau ketika Dian Sastro tidur dalam posisi yang jauh dari kata anggun dengan mulut menganga lebar. Kapan lagi bisa melihat artis yang kerap disinonimkan dengan simbol kecantikan Indonesia itu tertangkap kamera dalam pose yang malu-maluin?

Fragmen-fragmen kecil yang disisipkan dengan baik inilah pemicu derai tawa penonton dari awal hingga pertengahan film. Lho, kok hanya sampai pertengahan saja? Ya, sayangnya begitu. Sebab paruh akhir dari film ini, mulai dari kemunculan konflik hingga akhir film terkesan dipaksakan.

Satu-satunya tawa yang tersisa, setidaknya bagi gue, hanyalah ketika teman-teman tim produksi film Tyo datang untuk mengerjakan editing pengambilan gambar terakhir. Dan mereka baru menyadari bahwa ruangan yang mereka pakai untuk melakukan hal tersebut adalah kamar mayat. Setelah itu, konflik masuk sudah terlalu terlambat dan berusaha diselesaikan dengan cara yang terkesan terburu-buru mengingat durasi film sudah berjalan terlalu lama.

Miskinnya kutipan yang jamak diderita film-film Indonesia berusaha ditangkis oleh Nataya Bagya yang menulis skenario film ini. Dia membuat sebuah kutipan yang diperkenalkan secara sepintas oleh satu-dua tokoh di bagian awal film yang kembali digarisbawahi di bagian akhirnya. The foundation of everything is a good family. Begitulah kutipan film ini yang sederhana namun cukup mengena dan relevan bagi keseharian banyak orang di dunia nyata.

Sayangnya, kutipan ini terasa kurang pas dipakai menggambarkan keseluruhan plot film ini. Dari awal yang terlihat lebih membumi dalam keluarga adalah sosok Tania. Sebagai seorang ibu dan anak dari sang Mama yang turut tinggal bersamanya dalam satu rumah, dia terlihat lebih bertanggung jawab pada keluarga. Sementara sosok Tyo, karena sempitnya ruang geraknya dalam skenario tersebut, malah sama sekali tidak terlihat asal-usul dan wujud keluarganya seperti apa. Pula sebagai seorang ayah dan suami dia sudah bisa dikategorikan gagal karena kesibukannya yang luar biasa sehingga membuat keberadaannya di rumah hanya terlihat di akhir film.

724_11

Kasihan Lukman Sardi. Skenario film ini membuat karakternya terlihat bagai sebuah tempelan semata. Meski pernikahan antara Tania dan Tyo digambarkan sudah berjalan lima tahun lamanya, dia tak terlihat dekat dengan sang anak ataupun sang mertua.

Okelah, kalau karena alasan terlalu sibuk dengan pekerjaan maka menjadikannya kurang dekat dengan anak dan mertua. Tapi bukannya itu bisa menjadi alasan sangat kuat untuk membuat anak dan mertuanya menyambutnya dengan penuh sukacita ketika dia sembuh dan keluar dari rumah sakit. Atau minimal keduanya terlihat berusaha merangkul ayah sekaligus menantu yang lama tak terlihat pada saat menjenguknya di rumah sakit?

Entah kesalahan terletak pada skrip atau ada disharmoni di bagian lain, gue merasa eksistensi Lukman Sardi di film ini seperti biasa saja. Kalah pamor dengan Dian Sastro yang sudah lama ditunggu di layar kaca. Kalah ganteng dengan Ari Wibowo yang makin tua makin ngegemesin. Dan yang lebih parah dari semuanya itu adalah ga ada sedikitpun chemistry antara Lukman dan Dian sebagai pasangan suami istri.

Ya, keduanya berusaha terlihat saling mencintai satu sama lain. Tapi justru itu kelemahannya. Mereka terlihat berusaha. Jadi ga kelihatan natural. Membayangkan kedua insan dari dua dunia profesi yang bertolak belakang tersebut bisa saling bertemu saja sulit, apalagi meyakinkan bahwa keduanya sudah menikah selama lima tahun. Lebih sulit lagi untuk dipercaya.

Dari segi plot, apa boleh buat masih standar saja meski premise yang ditawarkan sebenarnya cukup menjanjikan di awal dan terlihat menarik saat menonton trailernya. Meski masih ada beberapa kekurangan dalam plot, itu tidak menjadikan 7/24 sebagai film yang buruk. Sebaliknya, ini menunjukkan perkembangan yang baik dalam karir penyutradaraan Fajar Nugros. Setidaknya film ini membuat gue dan banyak penonton lainnya merasa terhibur tanpa terlalu memusingkan kekurangan yang ada.

Sebaiknya jangan memaksakan aktor untuk mengucapkan kutipan dalam dialognya kalau memang ga relevan dengan gambaran besar film tersebut dari awal hingga akhir. Bila memang berkesan, penonton akan menggarisbawahi sendiri kutipan dalam sebuah film tanpa perlu penekanan dalam dialog tokoh-tokohnya.

724_8

724_3

Quotes: The foundation of everything is a good family (Tania & Tyo).

Use Facebook to Comment

comments

No Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: