[Review] Exodus: Gods and Kings

Exodus Poster

Exodus: Gods and Kings (2014)
Duration: 150 minutes
Casts: Christian Bale, Joel Edgerton, Ben Kingsley
Screenplay by: Adam Cooper, Bill Collage,
Jeffrey Caine, Steven Zailian
Based on: Book of Exodus (Bible)
Directed by: Ridley Scott

Intisari: Moses yang dibesarkan bersama dengan Ramesses sang putra Firaun, merasa terkejut ketika mengetahui bahwa dirinya berdarah Israel. Mendapati hal ini, Ramesses pun membuang dirinya sebagai orang asing ke tanah Midian, di mana Moses akhirnya membangun hidup baru dengan menikahi wanita setempat bernama Zipporah. Hidupnya berjalan baik-baik saja sampai suatu ketika malaikat Tuhan menampakkan diri dan menyuruhnya kembali ke Mesir untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan. Namun, tentu saja Ramesses yang terkenal berhati dingin tak akan membebaskan para budaknya begitu saja.

Exo1

# # #

Semua film yang diadaptasi dari kisah di alkitab selalu menarik untuk ditonton. Terlepas dari maasalah keakuratan pembuatan film yang banyak dipertanyakan, Exodus: Gods and Kings berhasil menyita perhatian penonton dari berbagai kalangan. Pada saat menonton film ini di bioskop, gue melihat sangat banyak keluarga, para wanita berjilbab, hingga anak-anak muda berkalung salib besar memenuhi studio.

Siapa sih yang ga kenal Moses atau Nabi Musa? Mungkin hampir semua orang sudah pernah mendengar kisah ajaibnya membelah Laut Merah dan mengajak bangsa Israel menyeberangi dasar lautan yang kering atas kuasa Tuhan. Tentu saja yang menonton film ini berharap melihat adegan membelah Laut Merah yang dramatis dan menegangkan tersebut. Di film ini pun adegan itu ada, tapi tidak semegah dan spektakuler seperti harapan. Dari segi visual memang oke, tapi dari segi logika gue merasa tidak puas.

Exodus Gif

Ya, memang peristiwa seperti ini sering kali ga bisa dicerna oleh logika, meskipun Ridley Scott berusaha keras membuat segala sesuatu yang terjadi di film ini terlihat masuk akal dan bisa diterima nalar siapa saja. Tapi bagi yang sudah menonton film ini pasti setuju bahwa adegan Laut Merah terbelah dan bagaimana Moses dan Ramesses saling kejar mengejar di sana terlihat konyol.

Siapapun yang melihat luapan air setinggi gedung pencakar langit tidak akan mempertaruhkan nyawanya demi mengejar musuh. Adegan yang seharusnya menjadi signature scene malah terlihat bodoh, entah siapa penulis skrip yang bertanggung jawab untuk bagian ini.

Exo5

Sepuluh tulah Tuhan yang menimpa bangsa Mesir seperti yang diceritakan dalam alkitab pun tidak semuanya dimuat di film ini. Scott punya banyak waktu untuk memotret fragmen-fragmen hidup Moses yang kurang signifikan tapi seperti terburu-buru saat harus menyajikan sepuluh bencana hebat yang seharusnya menjadi sajian utama dalam film. Meski begitu, gue cukup menikmati sekelumit hiburan yang mengundang senyum dan tawa saat melihat Ramesses dan seisi istananya menutupi wajah dengan kain transparan saking banyaknya lalat menyeruak masuk bahkan hingga ke dalam kediaman Firaun.

Ada banyak ketidakakuratan dalam film ini bila dibandingkan dengan sumber aslinya yaitu kitab Keluaran (Book of Exodus). Mulai dari Moses yang tidak didampingi oleh Aaron (Harun, sang kakak) saat memimpin bangsa Israel dan menghadap Firaun, hingga absennya tongkat legendaris Moses yang bisa berubah menjadi ular dan juga dipakainya untuk membelah Laut Merah. Bila bicara tentang ketidakakuratan, tentunya daftarnya akan menjadi sangat panjang dan segala kelebihan dalam film ini akan hanyut terbawa arus Sungai Nil.

Secara keseluruhan, Exodus: Gods and Kings layak ditonton dan merupakan salah satu dari sedikit film yang memicu para penontonnya untuk membahas kembali seluruh detil di dalamnya bahkan beberapa hari sesudah menonton. Visual efek dan musik latarnya sangat apik dan mendukung adegan-adegan yang penting. Gue juga suka bagaimana Scott menerjemahkan Malak (malaikat Tuhan yang menyertai Moses) dalam sosok seorang bocah kecil. Menurut gue, ini sangat menarik dan terasa lebih humanis dibanding menggambarkannya dengan sosok bercahaya dan mengaburkan pandangan.

Di sisi lain, walaupun gue kecewa dengan kealpaan tongkat Moses, gue bisa mengerti kenapa. Sebab di film ini Moses digambarkan sebagai seorang pemimpin yang bukan hanya pintar dalam berbicara tapi juga panglima perang yang strategis. Maka sudah sewajarnya bila tongkatnya ‘ditukar’ oleh Scott dengan pedang.

Dari segi akting, Christian Bale sudah sangat tepat memerankan Moses. Selain kualitas aktingnya yang jempolan, sosoknya memberi warna tersendiri pada Moses yang berubah pandangan dari rasional menjadi relijius. Demikian dengan Joel Edgerton sebagai Firaun Ramesses, tidak tampak menakutkan tapi lebih manusiawi dan ambisius. Keduanya membuat tokoh-tokoh terkenal dalam sejarah dan agama menjadi lebih hidup dan karakter mereka tampak dekat dengan manusia pada umumnya. Bukan karakter kenabian atau kedewaan seperti yang lazim diterjemahkan dalam film-film serupa di masa lampau.

Hal lain yang membuat film ini menarik ditonton adalah totalitas dalam penggarapan set Mesir dan Midian di masa lampau. Ornamen lokal dan kostum para aktor dan aktris mulai dari peran utama hingga peran pendukung terlihat total dan maksimal. Ini bagus buat bahan observasi bagi yang tertarik membuat film bergenre sama.

Tontonlah Exodus: Gods and Kings selagi sempat. Meski banyak kekurangan di sana-sini, film ini tetap menarik sebagai hiburan dan bahan diskusi dengan sesama peminat film atau dengan siapapun yang tertarik pada sejarah dan agama.

Exo9

Exo6

Quotes: Follow me and you will be free. Stay and you will perish. (Moses)

Use Facebook to Comment

comments

No Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: